Home Reportase Sidang Megakorupsi e-KTP, Andi Narogong ‘Berkelahi’ Dengan Terdakwa Irman

Sidang Megakorupsi e-KTP, Andi Narogong ‘Berkelahi’ Dengan Terdakwa Irman

3 Menit Durasi Baca
0
0
286
Andi Agustinus alias Andi Narogong dengan pakaian rompi KPK (foto: netralitas)

VONISTIPIKOR.COM, Jakarta — Saksi kunci kasus megakorupsi e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong ‘berkelahi’ dengan terdakwa Irman pada sidang ke-17 kasus dugaan korupsi dalam pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Pengunjung sidang yang sebelumnya sempat berkurang, kali ini bertambah ramai karena salah satu saksi yang dihadirkan adalah Andi Agustinus alias Andi Narogong pada sidang Senin (29/5/2017). Dia disebut-sebut sebagai pelaku utama dalam kasus yang merugikan negara sekitar Rp 2,3 triliun itu.

Selama persidangan, Andi tampak leluasa menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan majelis hakim maupun jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, hampir semua keterangan Andi terpatahkan saat majelis hakim memberikan kesempatan bagi para terdakwa untuk memberikan tanggapan atas keterangan para saksi.

Terdakwa Irman tak sepakat dengan keterangan yang disampaikan Andi. Bahkan, mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri tersebut sampai-sampai merasa difitnah.

“Mohon maaf majelis, ada banyak sekali keberatan saya. Banyak keterangan saksi yang tidak sesuai fakta,” ujar Irman, kepada majelis hakim.

Andi mengatakan bahwa Irman pernah memperkenalkan dia dengan Paulus Tanos, salah satu pengusaha yang akan ikut proyek pengadaan e-KTP.

Menurut Andi, Irman memberitahu bahwa Paulus adalah orang dekat Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. “Demi Allah, saya kan lagi puasa, saya tidak pernah keluarkan kata-kata itu,” kata Irman.

Ketua Majelis Hakim Jhon Halasan Butarbutar kemudian kembali bertanya kepada Andi terkait keterangannya yang dibantah oleh Irman.

Namun, Andi menyatakan tetap pada keterangannya. Mengenai hal lain, Andi mengatakan bahwa ia tidak pernah berhubungan dengan DPR RI dalam proyek e-KTP.

Ia juga membantah adanya pertemuan di Hotel Grand Melia dengan Setya Novanto yang saat itu menjabat Ketua Fraksi Golkar di DPR. “Tidak pernah ada pertemuan,” kata Andi. Hal tersebut kembali dibantah oleh Irman.

Menurut Irman, justru Andi merupakan sponsor pertemuan di Grand Melia dengan Setya Novanto. Andi yang aktif memberikan undangan agar yang lain menghadiri pertemuan itu.

Sebelum terjadi pertemuan, menurut Irman, Andi mengatakan bahwa kunci penentu anggaran proyek e-KTP bukan Komisi II DPR, melainkan Setya Novanto. Bahkan, menurut Irman, Andi berjanji untuk mempertemukan dia dengan Setya Novanto.

Pernah Dilempari Piring

Dalam persidangan, Andi mengatakan bahwa ia pernah dimarahi, bahkan sampai dilempar piring oleh Irman. Menurut Andi, ia dimarahi karena membocorkan rencana pengaturan pemenang lelang yang ingin ditentukan sendiri oleh Irman. Saat itu, kata Andi, Irman ingin memenangkan PT Mega Global dalam proses lelang proyek e-KTP.

“Fitnah yang lebih besar lagi bahwa saya dikatakan sampai melempar piring, karena ingin menangkan PT Mega Global. Ya Allah, saya tidak pernah sentuh PT Mega Global,” kata Irman.

Menurut Irman, dalam proses lelang, dia justru berusaha memenangkan Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI), Konsorsium Murakabi dan Konsorsium Astragraphia.

Ketiga konsorsium itu sengaja dibentuk oleh Andi untuk menentukan pemenang dan pendamping lelang. Andi terlihat tidak terima dengan bantahan-bantahan yang disampaikan Irman.

Ia pun berupaya meyakinkan majelis hakim bahwa Irman adalah orang yang selalu meminta uang kepadanya. Andi mengatakan, setidaknya sekitar 1,5 juta dollar AS telah ia berikan kepada Irman.

Menurut Andi, uang tersebut diminta oleh Irman untuk membiayai operasional di internal Ditjen Dukcapil. Andi yang tidak terima disebut berbohong, kemudian meminta interupsi kepada majelis hakim.

“Sebenarnya saya tidak mau, tapi hati kecil saya terpacu untuk mengatakan ini. Karena Pak Irman selalu melemparkan semua kesalahan kepada Pak Sugiharto yang dianggap memorinya lemah,” kata Andi, kepada majelis hakim.

Andi mengatakan, sebelum dia ditetapkan sebagai tersangka, Irman pernah mengatakan kepadanya untuk melemparkan semua kesalahan kepada Sugiharto.

Saat itu, Sugiharto memang sedang sakit dan lemah secara fisik. Andi mengatakan, ia diarahkan agar saat diperiksa oleh penyidik KPK, ia mengaku bahwa permintaan uang dilakukan oleh Sugiharto.

“Pak Irman pernah bilang, lemparkan saja semua pada Sugiharto. Isi BAP Sugiharto katanya dia yang buat. Tapi saya tidak rela, saya tidak ikhlas, karena semua uang yang minta adalah Pak Irman,” kata Andi.

Akan tetapi, hal tersebut segera dibantah oleh Irman. “Tidak ada, Yang Mulia. Yang saya sampaikan, apa yang saya akui dan Sugiharto akui, agar jangan dimentahkan lagi, yang salah nanti Andi juga,” kata Irman (nah/kps)

Muat Berita Terkait Lainnya
Muat Berita Lainnya Dari Redaksi
Muat Berita Lainnya Di Reportase

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Diduga Mendapat Tekanan Politis, Sekda Kota Batu Dikabarkan Mengundurkan Diri

VONISTIPIKOR.COM,  Batu — Beredar kabar salah satu Pejabat Pemkot Batu telah mengaju…