Home Investigasi Diduga Penjualan BBN Bersubsidi Di Kotabaru Diselewengkan

Diduga Penjualan BBN Bersubsidi Di Kotabaru Diselewengkan

2 Menit Durasi Baca
0
1
197

VONISTIPIKOR.COM, Kotabaru-Kalsel — Salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang merupakan anak cabang dari PT. Pertamina, tbk Kabupaten Kotabaru yang terletak di Desa Sebanti Kecamatan Pulau Laut Barat Kabupaten Kotabaru, ditengarai melakukan penyelewengan penjualan BBM Subsidi Nelayan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh awak media vonistipikor.com dari narasumber terpercaya disertai dengan video  durasi 2 menit 43 detik beserta photo, terlihat aktivitas bongkar muat minyak melalui kapal laut, kuat dugaan bisnis tersebut bersifat illegal yang dilakukan oleh salah satu pengurus Stasiun Pengisian Bahan Bakar sehingga minyak subsidi nelayan bisa keluar tidak secara langsung kesasaran yang sebenarnya, selain itu sumber juga menyerahkan foto foto penumpukan minyak jenis solar subsidi nelayan yang tidak jauh dari lokasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar.

Dari keterangannya,  bahwa video peristiwa  pembongkaran minyak solar di laut muara sebanti itu terjadi sekitar pukul 02.00 wita satu waktu yang tidak lazim untuk melakukan transaksi. Olehnya disaksikan dan dipertanyakan secara langsung kesalah satu Nakhoda saat bongkar muat minyak menggunakan kapal kayu yang diketahui kapal dari Kabupaten Tanah Bumbu pada tanggal 8 Nopember 2018 lalu. Bisnis yang diduga ilegal itu terjadi dengan penjualan kuota minyak kurang lebih sebanyak 6.800 liter. Dalam isi percakapan video tersebut di atas kapal, terdengar pengakuan Nakhoda Kapal mengakui minyak di ambil dari SPBN Sebanti setelah menjawab pertanyaan narasumber kita, minyak pun kemudian menggunakan kapal yang ada dibawa ke Tanah Bumbu untuk dijual kembali ke perusahaan pertambangan.

Nampaknya tidak hanya pengelola yang bisa bermain, bahkan menurut pengakuan  sumber berita ini, yang juga bermain bisnis atas minyak nelayan, adalah aparat desa sebanti, sembari ia menyerahkan foto penumpukan minyak dan foto mobil pengangukut minyak.

“Kurang lebih 2000 liter minyak tersebut kemudian dikendarai oleh supir berinisial WT untuk dibawa dan dibongkar ke perusahaan perkebunan kelapa sawit terdekat,” katanya.

Akibat dari pada perbuatan oknum yang tidak bertanggung jawab dengan memanfaatkan situasi bisnis minyak subsidi nelayan yang seharusnya para pencari ikan mendapatkan haknya, terkadang hal tersebut membuat Nelayan kecewa dan risau.

Dari pantauan awak media di lapangan, diperoleh data bahwa   sebagian besar nama para nelayan hanya dimanfaatkan sebagai bahan Rekomendasi oleh SPBN  kepada Dinas Perikanan Kabupaten Kotabaru.

Informasi juga diperoleh dari  salah satu anggota pengawas perikanan Desa Tanjung Kunyit Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, pada Selasa (8/1) Ia mengatakan bahwa pamannya yang seorang nelayan tidak pernah menerima subsidi BBM.

“Alhamdulillah, paman saya, atas nama Saharuddin, selama BBN keluar, beliau belum pernah menerima subsidi,” katanya.

Sebelumnya kepada Awak Media Vonistipikor.com tertanggal (27/11/18)  salah satu sumber berita mengatakan harga minyak solar subsidi nelayan seharusnya dengan HET perliter Rp. 5.150,- namun terangnya dijual kepada nelayan seharga Rp 5.250,- , ia juga menambahkan Ada 8 Desa pembagian jatah kelompok nelayan sejumlah 106 kapal, perminggu sekitar 30.000 liter, nelayan Desa Tanjung Kunyit kurang lebih 2 bulan tidak merasakan jatah minyak solar bersubsidi tersebut pada waktu itu.

Adi manager SPBN PT. Arsa Mega Energi, ketika dihubungi   melalui via WhatsApp, pada Jum’at 4 Januari 2019,  membantah adanya kegiatan bongkar minyak di laut sebanti. “Kami pelayanan khusus ke nelayan, itu tidak benar pak,” kata Adi singkat.

Pewarta : (MUD VT).

Muat Berita Terkait Lainnya
Muat Berita Lainnya Dari redaksi1
Muat Berita Lainnya Di Investigasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Kapolres Kota Tangerang Kunjungi Toko Posel Korban Perampokan

BANTEN (VonisTipikor.Com) — Kapolres Kota Tangerang Kombes Pol Sabilul Alif mengunju…