Home Daerah Ketua PB PGRI: Sri Utami, Bidadari Solo

Ketua PB PGRI: Sri Utami, Bidadari Solo

3 Menit Durasi Baca
0
6
147

NTT (VonisTipikor.Com) — Saat kegiatan PGRI di Kota Solo Saya diajak sahabat Emy Retno Sahaya menemui saudaranya yang sudah berhasil mendirikan klinik dan rumah sakit.  Saya dibawa oleh sahabat Retno karena  ada berencana mendirikan klinik PGRI Kota Sukabumi.  Kesempatan “Studi banding” in formal itu Saya manfaatkan.  Apa yang saya dapat? Ternyata bukan terkait bagaimana mendirikan klinik dan rumah sakit, malah Saya terpukau mendengar bagaimana Sang Pendiri klinik dan rumah sakit dahulu saat Ia berjuang. Ini yang menarik.

Sangat luar biasa apa yang sudah dilakukan oleh  Ibu Sri Utami. Sosok  perempuan “tiada tanding tiada banding”. Memang benar luar biasa.  Saya menyebutnya “Bidadari Solo”. Sungguh memukau  apa yang sudah dilakukan oleh seorang perempuan yang kini berusia   70 tahunan. Ia sangat gesit dan energic. Dalam usianya yang sudah tidak muda lagi Ia masih melakukan aktivitas yang wow. Melakukan senam dan renang bahkan katanya setiap hari Ia masih mampu berenang  terakumulasi sejauh 1000 meter. Wow!

Hal yang membuat Saya kagum pada sosok Bidadari Solo ini adalah pengalaman dan apa yang sudah dilakukannya. Ia memiliki sejumlah pengalaman. Ia pernah menjadi buruh cuci. Penjual sayuran keliling.  Sopir angkot. Mengamen. Pelatih senam. Hal yang paling menakjubkan  saat ini adalah memiliki sejumlah apotik dan rumah sakit. Keberadaannya sangat membantu masyaraat. PGRI  saja sebagai organisasi besar tidak mudah membuat klinik dan rumah sakit.

Klinik dan rumah sakitnya  sangat membantu masyarakat.  Pemeriksaan dokter hanya Rp 15 ribu. Rawat inap pasien Rp 45 ribu. Keberadaan layanan kesehatan yang Ia buat sangat berarti bagi masyarakat. Keberhasilannya hari ini sebagai pemilik beberapa klinik dan rumah sakit adalah buah dari perjuangan panjang dan syukur pada Ilahi. Spiritualitas dan paduan ikhtiar yang dilakukan sosok Bidadari Solo ini sungguh patut diteladani.

Saat Saya berkunjung ke rumahnya pun banyak cerita dan kisah yang dapat menggugah semangat kita. Ia  pernah menjadi seorang guru juga. Hal yang jauh lebih menarik adalah bagaimana Ia menyekolahkan suaminya di jurusan kedokteran yang awalnya hanya seorang guru SD. Ia terus menyekolahkan suami tercintanya sampai akhirnya Sang Suami yang awalnya guru SD menjadi seorang dokter spesialis. Ini kisah yang sangat langka.

Bila pembaca ingin melihat tayangan terkait dirinya saat diwawancara Kick Andy bisa dilihat di https://youtu.be/3aQPal1gy8Y . Apa yang Sang Bidadari lakukan dapat menjadi pelajaran bagi kita bagaimana seorang perempuan  dengan segala keterbatasan mampu menjadi orang yang sangat sukses. Bagaiman mungkin buruh cuci baju menjadi pengusaha klinik dan rumah sakit. Bagaimana mungkin mengubah suami dari seorang guru SD menjadi seorang dokter sepesialis.

Saya sempat bertanya kepadanya apa yang membuat Beliau menjadi pribadi istimewa? Ia menjawab karena terinspirasi sosok Bapaknya yang begitu baik, disiplin dan mengagumkan. Bapaknya adalah seorang penganut agama yang taat. Bahkan saat ini Ia pun sangat menjaga ritualnya  sebagai seorang muslim dan selalu berpuasa. Ia mengatakan hidupnya   kini sudah sangat baik. Ia setiap hari hanya malu saja sama Allah. Terlalu banyak kemudahan yang Ia berikan. Dirinya pun ingin membantu dan memberi kemudahan bagi orang lain.

Ia kini lebih suka melayani orang. Bahkan karyawan rumah sakitnya masih ada yang tidak tahu Ia adalah pemilik dari sejumlah klinik dan rumah sakit. Mengapa? Karena Ia berpenampilan apa adanya. Ia sering berkeliling membuatkan teh manis atau kopi untuk para karyawan klinik dan rumah sakitnya. Orang sepintas melihat Beliau sebagai seorang pembantu. Terlihat bagaikan emak-emak pembatu biasa. Sungguh terkecoh sejumlah orang. Kesederhanaannya membuat orang lain tak menduga dirinya adalah  bersuamikan dokter spesialis dan anak-anaknya pun dokter spesialis.

Saat Saya tanya ketika Ia masuk acara TV, awalnya Ia tidak mau. Takut ria. Ia mengatakan kalau Saya masuk TV mungkin Saya hanya dapat TV tapi tidak dapat ridho Allah. Wow.  Apa yang Ia lakukan hanyalah melayani, membantu orang lain. Kerja kerasnya hanyalah bentuk tasyakur pada Allah karena malu pada Allah yang telah memberikan kehidupan bagi dirinya. Ia pun penulis beberapa buku. Budaya literasinya sangat luar biasa. Bahkan Saya pun diberikan satu buku. Terimaksih Bidadari Solo. Terimakasih Ibu Mulia Sri Utami.

Penulis : Dudung Nurullah Koswara (Ketua PB PGRI)

Dipublikasi Oleh : Retno VT ( Pengawas SMA NTT)

Muat Berita Terkait Lainnya
Muat Berita Lainnya Dari redaksi1
Muat Berita Lainnya Di Daerah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Kapolres Kota Tangerang Kunjungi Toko Posel Korban Perampokan

BANTEN (VonisTipikor.Com) — Kapolres Kota Tangerang Kombes Pol Sabilul Alif mengunju…